Blueeyesberry

LOVE INC

CHAPTER 67-68

LOVE INC
blueeyesberry

Sore itu, bias mentari yang mulai turun ke peraduan menciptakan gradasi warna emas dan ungu yang memukau di cakrawala Pulau Kunfunadhoo, salah satu titik paling eksklusif di Soneva Fushi, Maldives. Di dek kayu vila apung yang berdiri megah di atas air kristal Maladewa, suasana seharusnya terasa magis. Namun, bagi Michella, keindahan itu seolah tertutup kabut tebal yang menyesakkan dada.

Michella duduk bersandar pada dada bidang suaminya. Kevin, yang sore itu tampil kasual namun tetap memancarkan aura old money yang kuat, hanya mengenakan sleeveless shirt dari Loro Piana dan celana pendek senada. Pakaian itu mengekspos otot-otot lengannya yang maskulin dan urat-urat menonjol yang selalu berhasil membuat Michella terpesona. 

Di sisi lain, Michella tampak sangat cantik sekaligus seksi dalam balutan triangle bikini berwarna terracotta dengan aksen gold hardware dari Zimmermann. Sebuah kain sarong transparan melilit pinggulnya, mempertegas siluet tubuhnya yang ideal namun kini tampak tegang.

Kevin menyesap iced americano-nya, matanya yang tertutup kacamata hitam Tom Ford terus memperhatikan raut wajah istrinya dari samping. Ia bisa merasakan detak jantung Michella yang tidak beraturan melalui punggung yang bersandar padanya.

"Kamu mau ngomong apa, hm?" tanya Kevin pelan. Suara baritonnya memecah kesunyian, menghentikan spekulasi yang sejak siang tadi berputar di kepalanya.

Michella menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan. Ia menatap lurus ke arah laut yang tenang, namun pikirannya melayang jauh ke Jakarta, ke bangsal steril tempat Arka berjuang.

"Aku mau bilang... kalau Arka harus operasi besar, Kev," ujar Michella dengan suara yang bergetar. "Tapi masalahnya... rumah sakit kehabisan stok sumsum pendonor yang cocok untuk Arka. Stok di Indonesia zero."

Tangan Kevin yang tadinya diam, kini melingkar lebih erat di dada istrinya yang tampak gusar. Dengan gerakan intuitif, jemarinya mulai bergerak lembut, mengusap area atas dada Michella—sebuah gestur penenang yang biasa ia lakukan untuk meredakan serangan panik istrinya.

"Aku takut, Kev. Takut kalau Arka akhirnya nyerah. Takut kalau dia nggak kuat nahan prosedurnya. Takut kalau dia kesakitan sendirian di sana," racau Michella, air matanya mulai menggenang di sudut mata. "Aku udah minta bantuan teman dokter di Prancis, tapi mereka bilang, untuk anak seusia Arka dengan tipe leukemia se-agresif itu, pencarian pendonor akan sangat sulit."

Michella mendongak, menatap wajah tampan suaminya dari bawah. Tatapannya penuh permohonan, seolah Kevin adalah satu-satunya pelampung di tengah samudera yang sedang mengamuk. "Aku mau minta tolong kamu... minta kamu cari lewat relasi dan jaringan kamu di London atau manapun di Eropa. Kamu mau bantu aku? Bantu cari donor sumsum dari sana?"

Kevin terdiam. Hening yang tercipta di antara mereka terasa begitu berat, hanya diiringi suara deburan ombak kecil yang menghantam tiang-tiang vila. Tangan Kevin yang bebas kini meraih jemari Michella, mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jarinya, memberikan kehangatan di tengah angin laut yang mulai mendingin.

"Michi... boleh aku jujur sama kamu?" tanya Kevin pelan. Ia menunduk, mengecup kening Michella dengan sangat lama, seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya ke dalam diri wanita itu.

Michella mengernyit, merasa bingung dengan nada bicara Kevin yang tiba-tiba berubah sangat serius dan sedikit... misterius. "Maksud kamu? Jujur soal apa, Kev?"

Kevin melepaskan kacamata hitamnya, menampakkan manik mata gelapnya yang kini menatap Michella dengan intensitas yang sulit dibaca.

"Sebenarnya, aku udah tahu lama soal Arka, Michi."

Suara Kevin terdengar begitu rendah, nyaris tertelan deru angin Maladewa yang mulai kencang. Namun bagi Michella, kalimat itu seperti ledakan di tengah kesunyian. Ia menarik diri dari pelukan Kevin, matanya membulat sempurna dengan binar ketidakpercayaan yang nyata.

"Hah? Sejak kapan? Kok bisa?" tanya Michella dengan nada yang naik satu oktaf. Jantungnya berdegup kencang, merasa seolah seluruh rahasia yang ia jaga dengan taruhan nyawa selama ini ternyata sudah bocor sejak awal.

Kevin menatap Michella dengan intensitas yang sulit dibaca.

"Sejak pertama kamu temenin aku ke Lumina sama anak-anak AERO," jawab Kevin tenang. "Sebelumnya, aku udah minta orang buat nyari tahu siapa Arka. Soalnya sejak kamu bilang mau jenguk dia dan bilang dia sangat penting dalam hidup kamu, jujur... aku awalnya ngira Arka itu pacar atau mantan kamu yang sengaja disembunyiin."

Michella tertegun, mulutnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar. Ia merasa bodoh karena sempat meragukan insting pria di depannya.

"Pas di Lumina, aku dapet kabar dari teman aku. Ternyata Arka itu salah satu pasien di bawah yayasan Lumina, anak hebat yang sengaja disembunyiin sama tunangan aku waktu itu," lanjut Kevin sembari meraih jemari Michella. "Tapi aku milih diem, Chi. Karena aku percaya kamu bakalan ngomong sendiri ke aku kalau waktunya udah tepat."

Kevin menjeda kalimatnya, ia menarik napas panjang seolah sedang mengenang momen di lorong Lumina Soul Sanctuary.

"Hari itu juga, hati aku rasanya mencelos pas aku nggak sengaja denger betapa tulus hati seorang kakak, yang kemudian menganggapnya sebagai  seorang anak. Sejak itu aku berjanji, kalau kamu ngomong jujur ke aku, aku akan terima apa pun itu... termasuk soal Arka."

Mendengar pengakuan itu, air mata Michella yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipi. Ia tidak menyangka suaminya sudah tahu semuanya jauh sebelum ia berani bicara. "Jadi... kamu udah tahu semuanya sejauh itu?" tanya Michella dengan suara bergetar.

Kevin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat jarang ia perlihatkan—senyum yang penuh dengan rasa bangga dan kelegaan.

"Aku menghargai kamu, Chi. Dan jujur, waktu itu aku seneng banget pas kamu minta Arka buat manggil aku dengan sebutan Papa. Minta dia buat bisa terima aku sebagai Papa untuknya. Aku bahagia, aku bahkan ngerasa 'salting' pas denger pertama kali Arka panggil aku Papa. Itu lebih berharga dari proyek mana pun," bisik Kevin sembari mengusap air mata istrinya.

Michella terisak, ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kevin. Gengsi yang selama ini ia agungkan runtuh sepenuhnya. Ternyata, selama ini ia tidak berjuang sendirian; Kevin selalu ada di sana, mengawasinya dari kejauhan, menunggunya dengan tangan terbuka tanpa sekali pun menghakiminya.

"Makasih, Kev... makasih udah nggak marah," bisik Michella lirih.

Kevin mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Michella dengan takzim. “Udah, jangan nangis lagi. Sekarang fokus kita cuma satu: bikin Arka sehat total. Soal donor sumsum itu, aku udah punya solusinya. Kamu cukup percaya sama aku, oke?”

Kevin mengeratkan pelukannya, namun matanya menatap Michella dengan sorot yang menuntut kejujuran lebih dalam. Atmosfer di balkon vila Maldives itu mendadak berubah menjadi lebih serius, seolah-olah angin laut pun ikut tertahan untuk mendengar rahasia selanjutnya.

"Chi..." Kevin menahan ucapannya sejenak, membelai rambut Michella yang tertiup angin.

"Kamu masih belum mau ngomong semuanya sama aku? Masih ada yang kamu sembunyiin dari aku, kan?" tanya Kevin lagi. "Soal... Lumina."

Michella tersentak. Ia melepaskan pelukannya perlahan, menatap Kevin dengan tatapan yang sulit diartikan. Rahasia ini adalah benteng terakhirnya. 

"Kev... kamu beneran mau tahu semuanya?" tanya Michella pelan.

"Aku suami kamu, Chi. Aku nggak mau denger dari orang lain kalau istri aku ternyata punya 'dunia' yang nggak pernah aku injak," jawab Kevin dengan nada baritonnya yang mantap.

Michella menghela napas panjang, ia memutar tubuhnya berdiri menghadap hamparan laut Maldives yang kini mulai gelap. "Lumina... itu bukan punya Verly, Kev. Verly dan Paresa itu cuma pengelola."

Mata Kevin menyipit, meskipun ia sudah menduganya, mendengar langsung dari mulut Michella tetap memberikan sensasi yang berbeda.

"Aku pemegang resmi Lumina. Semuanya, dari aset sampai operasional panti di bawahnya, itu punya aku," ujar Michella akhirnya. Suaranya terdengar lebih berani sekarang. "Aku sengaja pakai nama Verly supaya nggak ada satu pun orang korporat, atau bahkan saingan bisnis Papi, yang tahu kalau aku pendiri dan pemilik aslinya. Aku nggak mau Lumina jadi alat politik atau bisnis mereka."

Kevin terdiam, ia tampak terpaku menatap punggung istrinya.

"Aku bangun Lumina dari nol, Kev. Pake uang tabungan aku, investasi diam-diam aku, sampai akhirnya bisa sebesar sekarang. Verly dan paresa itu sahabat aku yang paling aku percaya buat pegang lisensi medisnya," sambung Michella lagi. Ia berbalik, menatap Kevin dengan binar mata yang penuh perjuangan. 

"Alasan aku minta nikah dipercepat juga karena itu. Aku butuh status kamu buat ngelindungin Lumina dan Arka dari pihak-pihak yang mulai nyium keberadaan pemilik aslinya."

Kevin perlahan bangkit dari kursinya, melangkah mendekat dan memerangkap Michella di antara tubuhnya dan pagar balkon. Ia menatap Michella dengan tatapan yang... kagum.

"Jadi, selama ini istri aku ini bukan cuma desainer hebat, tapi juga philanthropist rahasia yang punya aset triliunan di bawah radar?" tanya Kevin sembari menyelipkan rambut Michella ke belakang telinga.

"Jangan ngeledek, Kev. Aku serius," ujar Michella sembari memukul dada Kevin pelan.

Kevin tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat bangga. "Aku nggak ngeledek, Chi. Aku malah makin ngerasa kecil di depan kamu. Ternyata, Michella Vesper yang aku nikahin ini jauh lebih 'mahal' dari apa pun yang pernah aku bayangin."

Kevin mencium kening Michella dengan sangat dalam, lebih lama dari biasanya. "Makasih udah jujur. Sekarang aku paham kenapa kamu protektif banget. Tenang aja, rahasia kamu aman sama aku. Dan soal Arka... karena sekarang aku tahu Lumina itu punya istri aku, aku bakal kerahin semua jaringan Gregorya di London buat dapet sumsum tulang itu, gimana pun caranya."

"Janji ya?" tanya Michella manja, melingkarkan tangannya di leher Kevin.

"Janji, Sayang. Apapun buat pemilik Lumina," goda Kevin sembari mengecup singkat bibir istrinya yang kini tampak jauh lebih lega.

Langit Soneva Fushi mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, memantul di permukaan air kolam pribadi yang menyatu dengan laut. Michella mendongak, menatap lekat rahang tegas suaminya yang kini terasa jauh lebih dekat.

"Makasih lagi ya, Kev," ucap Michella lembut. Suaranya hampir tenggelam oleh deru ombak, namun Kevin bisa merasakan ketulusan yang mengalir di sana.

"Ciuman barusan gratis kan ya? Abisnya aku baru jadi pahlawan besar buat Lumina," ujar Kevin sembari terkekeh rendah. Tangannya yang besar merangkul pinggang Michella, menarik tubuh ramping itu hingga tidak ada lagi celah udara di antara mereka.

Michella tersenyum licik, sisi "bos" dalam dirinya kembali muncul. "Nggak bisa. Denda tetap denda, Tuan Gregorya."

"Berapa? Sepuluh juta?" tanya Kevin meremehkan angka itu. Tangannya mulai nakal, bergerak dari pinggang naik ke arah punggung Michella yang polos terekspos karena potongan bikininya yang minim.

"Aku kasih transfer satu miliar kalau kamu mau temenin aku sepuasnya. Kita masih punya waktu dua hari sebelum balik ke Jakarta, Chi," bisik Kevin. Nada suaranya mendadak berat, sarat akan keinginan yang sudah tertahan sejak mereka mendarat di pulau ini.

Tanpa aba-aba, jemari Kevin bergerak gesit menarik tali bikini Zimmermann yang mengikat di tengkuk Michella. Hanya dengan satu tarikan presisi, ikatan itu terlepas. Michella tersentak, matanya membulat sempurna saat merasakan atasan bikininya melonggar dan nyaris merosot sepenuhnya.

"Kev! Kamu ih! Kalau ada yang lihat gimana?" tanya Michella panik, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada perahu turis atau staf hotel yang melintas di area perairan sekitar vila mereka.

"Vila ini sengaja aku reservasi tanpa siapapun, termasuk penjaga vila di area private deck ini. Nggak akan ada yang lihat, Sayang," bisik Kevin tepat di telinga Michella, memberikan hembusan napas hangat yang membuat bulu kuduk istrinya meremang.

"Tetep aja ih, ini di luar! Bahaya kalau ada yang pake drone!" Michella berusaha keras menahan kain penutup dadanya agar tidak benar-benar jatuh ke lantai kayu.

"Kalau gitu, ayo masuk ke dalam."

Tanpa banyak bicara dan tanpa menunggu persetujuan, Kevin langsung menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Michella. Ia mengangkat tubuh istrinya ala bridal style dengan kekuatan yang sangat dominan. Michella kembali terkejut hebat, tangannya refleks melingkar erat di leher kokoh Kevin agar tidak terjatuh.

"Kev... nakal ih!" ujar Michella manja.

Ia akhirnya menyerah, membiarkan atasan bikininya tertinggal begitu saja di kursi malas, membiarkan kulitnya yang halus bersentuhan langsung dengan dada bidang Kevin yang hanya terbalut kaos tipis. Michella menatap wajah suaminya dengan senyum nakal yang tak kalah menggoda, menyadari bahwa "pembayaran denda" malam ini di Maladewa akan jauh lebih panjang dari biasanya.

Langkah kaki Kevin yang mantap bergema di atas lantai kayu jati saat ia membawa Michella masuk ke dalam kamar utama. Ruangan itu terasa sejuk, aroma essential oil lemongrass dan laut menyeruak, bercampur dengan ketegangan yang kian memuncak di antara keduanya.

Kevin mendudukkan Michella dengan sangat pelan di tepi ranjang king size yang dibalut sprei sutra putih bersih. Cahaya temaram dari lampu tidur memberikan siluet keemasan pada kulit Michella yang halus. Tanpa membuang waktu, Kevin merunduk, memerangkap Michella di antara kedua lengannya yang kokoh.

Ia menangkup wajah istrinya, jemarinya bergerak lembut mengusap pelipis Michella dengan ibu jarinya—sebuah sentuhan yang sangat personal dan memuja. Kevin menatap manik mata Michella sejenak, memastikan tidak ada lagi keraguan di sana, sebelum akhirnya ia memiringkan kepala dan melumat hangat bibir ranum istrinya.

Ciuman itu dimulai dengan lambat, sebuah eksplorasi yang penuh rasa terima kasih karena Michella telah memercayakan rahasia besarnya. Namun, perlahan iramanya berubah menjadi lebih dalam dan menuntut, mencerminkan gairah yang sudah mencapai titik didih.

"Emm, Kev..." Michella mendesah halus di sela pagutan mereka, tangannya merayap naik, meremas kaos tipis yang dikenakan Kevin, menarik suaminya agar semakin mendekat.

Kevin melepaskan tautan bibir mereka sejenak, namun dahi mereka tetap bersentuhan. Napas keduanya memburu, saling beradu di ruang sempit di antara wajah mereka.

"Jadi, satu miliar itu buat nemenin aku sampai besok pagi, kan?" bisik Kevin dengan suara bariton yang parau dan sangat rendah.

Michella terkekeh, meski napasnya masih belum beraturan. Ia menatap Kevin dengan binar jenaka yang menantang. "Tergantung servisnya, Tuan Gregorya. Kalau performanya oke, mungkin ada bonus tambahan."

Kevin menyeringai tipis, sebuah ekspresi predator yang baru saja mendapatkan lampu hijau. "Bonus ya? Aku paling nggak bisa denger kata 'bonus' tanpa pembuktian nyata, Chi."

Kevin kembali merunduk, kali ini kecupannya turun ke arah leher dan bahu Michella yang terekspos karena atasan bikininya yang sudah tidak lagi berada di tempatnya. Michella mendongak, membiarkan suaminya menjelajah, merasakan setiap sentuhan Kevin yang kini terasa jauh lebih berani dan posesif di bawah naungan kamar mewah Soneva Fushi.

"Uang satu miliar itu sudah masuk ke rekening kamu, Sayang. Barusan aku tekan tombol send lewat mobile banking pas kita jalan masuk tadi," bisik Kevin di ceruk leher Michella.

Michella terbelalak, ia tertawa renyah sembari menjauhkan sedikit kepala suaminya. "Hah? Gila ya! Kamu beneran transfer secepat itu?"

"Gregorya nggak pernah telat bayar kewajibannya, apalagi buat investasi yang ini," sahut Kevin sembari mulai membuka kaosnya sendiri, menampakkan tubuh atletisnya yang tegap. "Sekarang, berhenti bahas angka. Aku mau tagih semua investasi aku malam ini."

Michella menarik tengkuk Kevin, kembali menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang jauh lebih panas.

Suara deru pendingin ruangan di kamar vila Soneva Fushi seolah kalah oleh deru napas keduanya yang kian tidak beraturan. Kevin tidak lagi membuang waktu. Ia menanggalkan kaos Loro Piana-nya, menampakkan otot-otot dada dan perutnya yang mengeras sempurna, lalu kembali merapatkan tubuhnya pada Michella.

"Kev, satu miliar itu mahal lho harganya," bisik Michella parau, jemarinya meraba otot bisep Kevin yang tegap, memberikan sensasi terbakar yang merambat ke seluruh sarafnya.

Kevin menyeringai tipis, sebuah ekspresi predator yang sangat maskulin. "Makanya, aku nggak akan biarin satu sen pun terbuang percuma malam ini, Chi."

Kevin kembali menyerang bibir Michella dengan lumatan yang jauh lebih dalam dan menuntut. Tangannya yang besar mulai menjelajah, menelusuri lekuk pinggang Michella yang halus hingga mencapai ikatan terakhir dari kain sarong transparan yang melilit pinggul istrinya. Dengan satu tarikan pelan, kain itu luruh ke lantai, menyisakan Michella dalam keindahan yang paling murni di bawah temaram lampu kamar.

"Kamu bener-bener... mahakarya paling mahal yang pernah aku beli," gumam Kevin serak tepat di depan bibir Michella.

"Aku bukan barang, Tuan Gregorya," balas Michella sembari menarik tengkuk Kevin, menenggelamkan suaminya dalam ciuman yang tak kalah panas.

Kevin merebahkan tubuh Michella ke atas tumpukan bantal sutra, mengurung wanita itu dalam dunianya. Ia mulai menghujani leher, bahu, hingga area dada Michella dengan kecupan-kecupan tegas yang meninggalkan jejak kepemilikan yang samar namun nyata. Michella melenguh halus, jemarinya meremas rambut di tengkuk Kevin, menarik pria itu semakin dalam ke dalam dunianya.

"Kev... pelan-pelan, aku bisa gila kalau kamu kayak gini," rintih Michella saat merasakan sentuhan tangan Kevin yang kian berani di area sensitifnya.

"Gila bareng aku, Sayang. Nggak ada jalan pulang malam ini," sahut Kevin dengan suara bariton yang sangat rendah.

Di tengah kesunyian malam Maladewa, badai gairah itu benar-benar pecah. Kevin mendominasi dengan cara yang sangat protektif namun penuh tenaga, seolah ingin memastikan Michella merasakan setiap inci dari kehadirannya. Michella tidak lagi peduli dengan gengsinya; ia menyerahkan seluruh kendali pada pria yang baru saja ia sadari telah menjaganya dalam diam selama ini.

"Kevv..."

Michella mendesah pelan, suaranya hampir hilang di balik deru napasnya yang kian pendek. Di bawah temaram lampu vila Soneva Fushi, Kevin mulai menjelajahi setiap inci tubuh polos istrinya. Jemarinya yang hangat, kini bergerak dengan presisi yang memabukkan di atas kulit lembut Michella.

Seperti ritual yang sudah menjadi candu, Kevin tidak melewatkan satu inci pun. Fokusnya kini tertuju pada area favoritnya—dada Michella. Dengan tatapan memuja, ia mulai bermain lembut di sana, memberikan afeksi pada titik sensitif yang selalu berhasil membuat pertahanan Michella runtuh seketika.

"Kev..." Michella menatap suaminya dengan binar mata yang sayu, menunjukkan betapa dalamnya perasaan yang ia miliki untuk pria di hadapannya itu. Tatapannya penuh dengan kepercayaan dan kasih sayang, seolah mengakui bahwa Kevin adalah satu-satunya orang yang ia inginkan untuk berada di sisinya saat ini.

Kevin yang memahami perasaan istrinya, membalas tatapan itu dengan kelembutan yang luar biasa. Ia menarik selimut untuk menyelimuti mereka berdua, menciptakan suasana yang hangat dan privat di tengah sunyinya malam di Maladewa. Dengan gerakan yang penuh perhatian, Kevin memberikan kecupan ringan di dahi Michella, memastikan bahwa istrinya merasa aman dan dicintai sepenuhnya.

"Nyaman begini?" bisik Kevin dengan suara baritonnya yang rendah, terdengar sangat menenangkan di telinga Michella.

Michella mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Kevin. Jemarinya memainkan ujung kaos Kevin, merasakan kedekatan yang selama ini ia rindukan. Tidak ada lagi rahasia di antara mereka; hanya ada kejujuran dan keinginan untuk saling menjaga.

"Makasih ya, Kev, sudah selalu ada buat aku," gumam Michella tulus.

Kevin memeluknya lebih erat, menghirup aroma rambut Michella yang menenangkan.

"Kevv..."

Michella mendesah tertahan, suaranya pecah di antara deru napas yang kian memburu saat merasakan kehadiran Kevin yang kini benar-benar mendominasi pusat tubuhnya. Rasa perih yang sempat ia khawatirkan perlahan terkikis oleh gelombang kehangatan yang jauh lebih intens.

Kevin berhenti sejenak, menumpu beban tubuhnya dengan kedua lengan kokoh agar tidak menghimpit Michella sepenuhnya. Ia menunduk, menatap manik mata istrinya yang berkabut oleh gairah, lalu jemarinya bergerak lembut mengusap dan membelai pelipis Michella yang mulai lembap oleh keringat.

"Kamu masih sakit, hm?" tanya Kevin dengan suara bariton yang sangat rendah dan perhatian.

Michella menggeleng pelan, ia menarik tengkuk Kevin agar wajah mereka semakin dekat. "Udah nggak terlalu... Aku bisa tahan. Lagian jangan diingat sama rasa sakitnya, Sayang..." ujar Michella manja, sebuah nada provokasi yang langsung menyulut sisa-sisa pengendalian diri Kevin.

Kevin menyeringai tipis, tatapannya menggelap. "Aku gerak ya. Kamu harus siap sama sensasinya," bisik Kevin tak kalah menggoda, memberikan peringatan manis sebelum ia mulai mengambil alih kendali sepenuhnya.

Kevin mulai menggerakkan tubuhnya secara perlahan namun pasti, membangun ritme yang sinkron dengan deru napas Michella. Michella refleks meremas kuat sprei sutra di bawahnya, kuku-kukunya hampir menembus kain mahal itu saat merasakan setiap dorongan Kevin yang kian dalam dan mantap. Sensasi yang diberikan Kevin seolah membakar akal sehatnya, membawanya terbang menjauh dari segala beban pikiran soal Arka maupun Lumina.

"Kevv..." lirih Michella, rintihannya menjadi melodi paling candu bagi Kevin malam itu.

Keringat mulai membasahi tubuh keduanya, berkilat di bawah temaram lampu vila Maldives. Kevin terus mendominasi dengan kekuatan yang sangat protektif, memastikan Michella merasakan setiap inci dari keberadaannya.

Dua puluh menit berlalu dalam badai gairah yang begitu emosional. Michella akhirnya terkulai lemas di atas tumpukan bantal, napasnya tersengal-sengal dengan detak jantung yang masih berpacu liar. Ia merasa sangat puas sekaligus letih, namun ada binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan dari matanya saat ia menatap Kevin yang kini mengecup keningnya dengan penuh rasa terima kasih.

Pukul dua dini hari waktu setempat, menyisakan tubuh yang lelah namun hati yang terasa sangat penuh. Kevin tetap mendekap Michella erat di bawah selimut sutra, membiarkan kulit mereka yang lembap karena peluh saling bersentuhan dalam keheningan yang syahdu.

Setelah badai gairah yang melanda di bawah langit Maladewa mereda, keheningan yang syahdu kembali menyelimuti kamar suite di Soneva Fushi. 

Kevin menarik selimut sutra untuk membungkus tubuh polos mereka berdua, lalu membawa Michella ke dalam dekapan posesifnya. Michella menyandarkan kepalanya di dada bidang Kevin yang masih terasa hangat dan sedikit lembap oleh peluh, mendengarkan detak jantung suaminya yang perlahan mulai kembali ke irama normal.

"Capek banget ya?" bisik Kevin parau, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam di keheningan malam. Ia menciumi puncak kepala Michella yang tampak sangat lelah namun raut wajahnya terlihat begitu damai.

Michella hanya bergumam tidak jelas sembari memejamkan mata. Jemarinya masih melingkar lemah di pinggang Kevin, seolah tak ingin memberikan celah udara sedikit pun di antara mereka. "Kamu... beneran nggak ada capeknya ya, Kev. Aku rasanya kayak mau pingsan tadi," rintih Michella manja dengan mata yang masih tertutup rapat.

Kevin terkekeh rendah, sebuah tawa kemenangan yang sarat akan rasa cinta. "Kan tadi janjinya sampai pagi, Chi. Anggap saja ini service terbaik dari pemilik Gregorya untuk pemilik Lumina."

"Nggak lucu... pinggang aku beneran pegal," keluh Michella sembari memukul pelan dada Kevin. "Besok kalau aku nggak bisa bangun buat sarapan, kamu tanggung jawab ya!"

"Iya, Nona. Besok aku yang suapin kamu sarapan," janji Kevin sembari mengeratkan pelukannya, menyelimuti Michella dengan rasa aman yang selama ini wanita itu cari.

Di luar sana, suara deburan ombak laut Maldives seolah menjadi melodi pengantar tidur bagi kedua insan yang baru saja menuntaskan dahaga asmara mereka. Malam itu bukan hanya tentang penyatuan fisik, tapi tentang Kevin yang berhasil meruntuhkan tembok gengsi Michella, dan Michella yang akhirnya menemukan pelabuhan paling kokoh dalam hidupnya.

***

Cahaya matahari pagi Maladewa menyelinap lembut melalui celah tirai linen tipis, menyinari wajah Michella yang masih terlelap dalam gulungan selimut sutra. Ia mengerang pelan, merasakan pegal yang tidak biasa di area pinggang dan paha—sebuah "kenang-kenangan" manis dari badai semalam yang sukses menguras seluruh tenaganya.

Michella meraba sisi tempat tidur yang kosong. Dingin. Kevin sudah tidak ada di sana.

"Kev?" panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Tak ada jawaban. Michella perlahan duduk, menahan ringisan kecil saat otot-ototnya meronta. Di atas nakas, matanya menangkap sebuah buket bunga Frangipani putih segar yang masih berembun, lengkap dengan secarik kertas bertuliskan tangan yang sangat rapi: "Kompensasi ronde semalam. Aku tunggu di kolam, Sayang."

Michella tersenyum geli. "Dasar Gregorya, nggak bisa banget nggak pamer," gumamnya sembari menyibakkan selimut.

Ia menyambar silk robe berwarna champagne yang tersampir di kursi, lalu melangkah pelan menuju dek luar. Begitu pintu geser terbuka, pemandangan di depannya nyaris membuatnya berhenti bernapas. Kevin sedang berdiri di dalam kolam renang infinity yang menyatu dengan gradasi biru laut Maladewa. Pria itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek renang, menampakkan punggung kokoh yang kemarin malam menjadi tumpuannya.

Di atas air, sebuah nampan kayu raksasa—Floating Breakfast—berisi pancake stroberi, potongan buah tropis, jus jeruk segar, dan dua cangkir kopi mengepul sudah tersaji mewah.

"Udah bangun, Tuan Putri? Gimana? Masih bisa jalan?" goda Kevin tanpa menoleh, seolah punya mata di belakang kepalanya.

Michella mendengus, ia berjalan ke tepi kolam dan duduk menjuntaikan kakinya ke air. "Nggak lucu, Kev. Pinggang aku rasanya mau copot. Kamu tanggung jawab pokoknya!"

Kevin terkekeh, ia berenang mendekat lalu menumpu kedua tangannya di depan lutut Michella. Wajahnya yang segar terkena sinar matahari pagi tampak berkali-kali lipat lebih tampan. "Lho, kan tadi pagi udah aku transfer satu miliar lagi buat biaya 'servis' tambahan. Belum cek HP ya?"

Michella membelalak. "Hah? Satu miliar lagi? Kamu beneran gila ya, Kevin!"

"Anggap aja itu bonus karena kamu udah jujur soal Lumina," bisik Kevin sembari mengecup lutut Michella singkat. "Sekarang sarapan dulu. Aku udah pesenin menu paling bergizi biar tenaga kamu balik. Habis ini, kita ada jadwal telepon sama tim medis di London."

Michella tertegun, binar matanya langsung berubah haru. Di tengah kemewahan dan godaan nakal suaminya, Kevin tidak pernah sedetik pun melupakan prioritas utama mereka: Arka.

"Makasih, Kev. Makasih udah bikin aku ngerasa nggak sendirian lagi," ujar Michella tulus, jemarinya mengusap rambut basah Kevin.

"Sama-sama, Chi. Sekarang makan ya? Kalau nggak habis, aku denda cium sepuluh kali di depan staf hotel nanti pas check-out," ancam Kevin dengan senyum miringnya yang paling menyebalkan sekaligus paling dicintai Michella.

"Ya udah nggak papa, asal kamu siap bangkrut aja bayar dendanya!" seru Michella sembari tertawa renyah, memulai pagi kedua mereka di Maladewa sebagai pasangan yang benar-benar utuh lahir dan batin.

Michella menyesap fresh orange juice-nya perlahan, sementara tubuhnya masih terendam separuh di dalam air, bersandar pada lengan kokoh Kevin yang memeluknya dari samping. Di depan mereka, nampan floating breakfast yang mewah masih menyisakan beberapa potong croissant dan buah-buahan segar.

"Kev, soal proyek baru aku dua minggu lagi," buka Michella, memecah keheningan yang nyaman di antara mereka. "Ini proyek besar, tapi jujur aku agak deg-degan."

Kevin menurunkan cangkir kopinya, menatap Michella dengan saksama. "Kenapa? Bukannya Vesper biasa pegang proyek triliunan? Apa yang beda kali ini?"

"Ini soal partnernya. Aku kerja sama dengan perusahaan baru, tapi anehnya... selama beberapa dekade ini, nggak ada satu pun orang luar yang tahu siapa pemilik sebenarnya. Kita cuma komunikasi lewat perwakilan masing-masing perusahaan. Corporate identity-nya bener-bener ketat banget," jelas Michella sembari mengerutkan kening, mencoba mengingat detail dokumen yang ia baca tempo hari.

Kevin mendengarkan dengan sabar, tangannya yang berada di bawah air tetap setia mengusap punggung Michella, memberikan ketenangan di tengah obrolan bisnis mereka. "Terus? Apa masalahnya kalau mereka anonim? Yang penting kan cashflow-nya lancar."

"Nah, itu dia masalahnya. Barusan Vanesa, sekretaris aku, kirim pesan. Dia bilang pemimpin tertinggi perusahaan itu tiba-tiba minta pertemuan face-to-face. Dia nggak mau lagi lewat perwakilan," ujar Michella. "Itu sebabnya aku harus turun tangan sendiri dua minggu ke depan. Aku nggak bisa cuma delegasiin ke tim desainer atau manajer operasional."

Kevin menaikkan sebelah alisnya, sorot matanya yang tajam seolah sedang memproses informasi itu dalam database-nya. "Minta ketemu langsung setelah puluhan tahun sembunyi? Agak mencurigakan. Kamu udah background check perusahaan itu lebih dalam?"

"Sudah, tapi bener-bener bersih, Kev. Nggak ada celah. Mereka cuma bilang ini proyek prestisius dan mereka butuh sentuhan langsung dari aku," jawab Michella sembari menyandarkan kepalanya di bahu Kevin. "Menurut kamu gimana? Apa aku harus waspada?"

Kevin mengecup pelipis Michella singkat, tatapannya kini lurus ke arah cakrawala laut. "Waspada itu wajib, Sayang. Apalagi buat orang yang tiba-tiba muncul dari balik bayangan. Tapi tenang aja, selama kamu pegang kendali, aku bakal pantau dari belakang. Kalau ada yang macem-macem, Gregorya nggak akan tinggal diam."

Michella tersenyum, ia merasa jauh lebih tenang setelah berbagi beban pikirannya dengan Kevin. "Makasih ya. Kadang aku lupa kalau suami aku ini punya jaringan intelijen sendiri."

"Makanya, jangan dipikirin terus. Sekarang habiskan sarapannya, habis ini aku mau tagih 'bonus' karena udah dengerin curhatan bisnis kamu pagi-pagi begini," goda Kevin dengan senyum miringnya yang ikonik.

"Dikit-dikit minta bonus! Dasar kapitalis!" seru Michella sembari mencipratkan air ke arah Kevin, memecah suasana serius mereka dengan canda tawa di tengah surga Maladewa.

Sinar matahari Maladewa perlahan naik, memantulkan kilauan kristal di permukaan air kolam yang jernih. Kevin masih memeluk Michella dari belakang, membiarkan istrinya bersandar nyaman pada dada bidangnya sembari mereka menghabiskan sisa buah-buahan di atas nampan apung. Namun, sorot mata Kevin yang semula santai, kini berubah tajam dan penuh perhitungan.

"Perusahaan yang puluhan tahun anonim tiba-tiba mau muncul?" gumam Kevin rendah, suaranya yang berat terasa bergetar di punggung Michella. "Siapa nama perusahaannya, Chi?"

"Caldwell Internasional," jawab Michella singkat. Ia tidak menyadari bahwa saat nama itu terucap, jemari Kevin yang sedang mengusap lengannya sempat terhenti sepersekian detik.

"Caldwell?" Kevin mengulang nama itu dengan nada yang sulit diartikan. "Aku pernah dengar nama perusahaan itu, Chi."

Michella menoleh, menatap suaminya dengan kening berkerut penasaran. "Iya, aku juga ngerasa familiar. Tapi Caldwell kan nama yang cukup umum di wilayah Asia Tengah atau Timur Tengah. Aku pikir itu cuma kebetulan, lagian nama mereka bahkan nggak pernah muncul di Forbes."

Kevin terdiam, namun otaknya bekerja secepat mesin balap AERO. Ia teringat laporan rahasia yang sempat dikirim Felix beberapa hari lalu soal silsilah yang terputus dalam data kependudukan Arka. Pikiran Kevin mulai menghubungkan titik-titik tersembunyi yang mungkin terlewatkan oleh orang lain.

"Mungkin kebetulan. Tapi di dunia bisnis kita, Chi, kebetulan itu barang langka," ujar Kevin sembari mengecup bahu Michella yang masih basah. "Dua minggu lagi ya pertemuannya? Di mana?"

"Di Jakarta, Kev. Mereka yang mau datang ke kantor Vesper. Vanesa bilang mereka bakal bawa seluruh tim legal dan eksekutifnya," jelas Michella. Ia menghela napas panjang, lalu berbalik hingga kini mereka saling berhadapan di dalam air. "Kamu temenin aku, ya? Jujur, aku agak intimidated sama vibe mereka yang terlalu rahasia begini."

Kevin tersenyum tipis, ia menyampirkan anak rambut Michella yang basah ke belakang telinga istrinya dengan lembut. "Tanpa kamu minta pun, aku bakal ada di sana. Aku nggak mau istri aku yang 'mahal' ini pusing sendirian menghadapi hantu korporat."

"Dih, mulai deh sombongnya," goda Michella sembari mencubit pelan perut Kevin yang berotot.

"Bukan sombong, Chi. Itu namanya proteksi aset," sahut Kevin sembari terkekeh. Ia kemudian mengangkat Michella keluar dari kolam, membungkus tubuh istrinya dengan handuk tebal Loro Piana yang sudah disiapkan staf.

Di balik senyum jahilnya pagi itu, Kevin sudah membuat keputusan. Begitu Michella masuk ke dalam kamar untuk mandi, ia harus segera menghubungi Felix.

"Kev! Ayo mandi bareng, katanya mau hemat air!" teriak Michella dari dalam kamar mandi, memecah lamunan serius suaminya.

Kevin tertawa renyah. Ia menyambar ponselnya sejenak untuk mengirim pesan singkat pada Felix: "Lix, cari tahu hubungan Caldwell Internasional sama perusahaan anonim yang pernah ikut andil di proyek keluarga lo 3 tahun lalu. ASAP."

"Iya, Sayang! Sebentar!" balas Kevin sembari melangkah masuk, meninggalkan keindahan Maladewa demi menghadapi badai yang mungkin sudah menanti mereka di Jakarta.

***

Suasana di Bistecca, Jakarta Selatan, siang itu cukup ramai oleh kalangan eksekutif yang melakukan late lunch atau pertemuan bisnis. Di salah satu meja sudut yang cukup privat, Verly dan Paresa baru saja menyelesaikan diskusi serius mengenai pengadaan alat medis terbaru untuk yayasan. Sebagai dua wanita karier yang memegang kendali di bidang masing-masing, pembicaraan profesional selalu menjadi pembuka sebelum akhirnya mereka beralih ke urusan pribadi.

"Pokoknya gue nggak mau tahu, Sa. Budget buat ventilator baru itu harus gol bulan ini. Gue nggak mau Arka atau pasien lain stuck karena alat lama," ujar Verly sembari menutup map dokumen di depannya.

Paresa terkekeh, ia menyesap iced latte-nya perlahan. "Santai, Dokter Cantik. Selama Michella masih pegang kendali Vesper dan Kevin Gregorya ada di belakangnya, angka segitu mah receh buat mereka. Yang penting laporan lo rapi."

Verly menghela napas, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang nyaman. "Iya sih. Ngomong-ngomong soal mereka, gue seneng deh liat update mereka di Maldives. Kayaknya Kevin beneran ngeratuin sahabat centil kita banget ya?"

"Banget! Lo liat nggak tas Hermès Birkin Faubourg yang diposting Michi tadi, mereka nggak keliatan menikah cuma karna bisnis," sahut Paresa antusias. "Iya lagi, gue yakin sih sebenarnya Michi udah nyaman sama hubungan mereka."

Verly tertawa kecil, namun sedetik kemudian wajahnya sedikit berubah. "Iya, gue seneng mereka bahagia. Seenggaknya di tengah keruwetan soal Arka, mereka punya waktu buat bonding."

"Terus lo gimana, Ver? Kapan nyusul? Masa betah banget jomblo sambil jagain pasien mulu?" goda Paresa sembari menaikkan alisnya.

"Gue? Ah, gue mah nunggu keajaiban aja, Sa. Lagian siapa juga yang mau sama dokter yang jam tidurnya berantakan kayak gue—"

Kalimat Verly terhenti seketika. Matanya terpaku pada sosok pria yang baru saja melangkah masuk ke area restoran bersama beberapa rekan bisnisnya. Pria itu mengenakan kemeja denim yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan kesan maskulin yang berantakan namun sangat berkelas.

Felix.

Sialnya, pandangan mereka bertemu. Felix yang sedang tertawa bersama temannya mendadak bungkam. Ada jeda beberapa detik yang terasa sangat kaku sebelum Felix akhirnya berpamitan pada rekannya dan melangkah menghampiri meja mereka.

"Eh, ada Dokter Verly sama Nona Paresa di sini," sapa Felix dengan nada yang diusahakan santai, meskipun tangannya secara tidak sadar meremas ponsel di genggamannya. "Lagi meeting atau lagi ngerumpiin pengantin baru?"

Paresa yang tidak tahu apa-apa hanya tersenyum lebar. "Dua-duanya, Lix! Sini, gabung bentar kalau nggak sibuk."

Felix melirik Verly yang sejak tadi hanya diam sembari memutar-mutar sendok di cangkir kopinya. "Boleh?" tanya Felix, matanya mengunci manik mata Verly.

"Duduk aja, Lix. Restoran ini bukan punya aku," jawab Verly datar, namun ada getaran halus di suaranya yang tidak bisa ia sembunyikan.

Felix akhirnya duduk di kursi kosong di samping Paresa, tepat berhadapan dengan Verly. Suasana mendadak menjadi sangat canggung bagi mereka yang tahu, namun tampak normal di mata Paresa. Tak ada yang tahu bahwa di balik sapaan santai itu, ada memori tentang Berlin tiga tahun lalu yang masih menghantui keduanya. Sebuah rahasia di masa lalu saat Verly masih menempuh spesialisnya dan Felix sedang menangani proyek rahasia di Jerman.

"Gimana kabar... Frankfurt?" tanya Felix tiba-tiba, sebuah pertanyaan kode yang hanya dimengerti oleh Verly.

Verly mendongak, menatap Felix dengan tatapan tajam. "Aku udah nggak di sana, Lix. Dan aku rasa kamu nggak perlu tanya soal itu lagi."

Paresa mengernyit bingung. "Frankfurt? Ver, bukannya lo sekolah di Munich? Lix, lo pernah ketemu Verly di Jerman?"

Felix terkekeh hambar, mencoba menutupi kegugupannya. "Cuma papasan sekali, Sa. Biasa, sesama perantau." ujarnya melirik dalam wajah yang beberapa waktu lalu muncul kembali kedalam hidupnya setelah perpisahan 3 tahun lalu.

Verly hanya bisa membuang muka ke arah jendela. Papasan sekali? Felix benar-benar pandai berbohong. Jika hanya papasan sekali, tidak mungkin Felix masih mengingat aroma parfumnya, dan tidak mungkin Verly masih merasa sesak setiap kali melihat tato kecil di pergelangan tangan Felix yang dulu sering ia sentuh.

Subscribe to "Blueeyesberry" to get updates straight to your inbox
blueeyesberry

Subscribe to blueeyesberry to react

Subscribe
Subscribe to Blueeyesberry to get updates straight to your inbox